Minggu, 01 Mei 2016
Sejarah The Beatles
AWAL MULA (1957 -1962)
The Beatles dimulai di tanah Liverpool dari sebuah band bernama The Quarrymen yang dibentuk oleh John Lennon pada Maret 1957, saat itu ia berusia 16 tahun. Paul McCartney yang saat itu berusia 15 bergabung dengan The Quarrymen beberapa bulan berikutnya. Di tahun berikutnya, teman McCartney yaitu George Harrison ikut bergabung. The Quarrymen hingga tahun 1960 terdiri dari trio gitaris yang memainkan rock n roll ala Elvis, Buddy Holly dan The Crickets. Di awal Tahun 1960, seorang teman Lennon, Stu Sutcliffe, melengkapi formasi sebagai bassist. Dialah yang kemudian menawarkan untuk mengganti nama The Quarrymen. Saat itu, beberapa kali band itu mengalami perubahan nama, dari The Beetels, The Beatlas, Johny and the Moondogs, Long John and the Beetles, dan The Silver Beatels, hingga akhirnya mereka membuang kata silver dan mantaplah nama The Beatles pada bulan Agustus 1960.
Di pertengahan 1960, seorang relasi bernama Allan Williams mengajak mereka untuk bermain di Hamburg, Jerman. Karena kekosongan pemain drum, mereka lalu secara dadakan mengaudisi Pete Best dan duduklah dia di posisi tersebut. Mulailah petualangan mereka mengisi klub-klub kawasan merah Hamburg dengan rock and roll.
Di Hamburg, Sutcliffe mendapat kekasih baru bernama Astrid Kirchherr. Nona inilah yang yang memperkenalkan gaya rambut German “exi” (eksistensialis) yang nantinya diadopsi sebagai trademark rambut personil The Beatles.
REKAMAN PERTAMA
Kesempatan pertama The Beatles di Hamburg hanya beberapa bulan saja. Berbagai masalah membuat beberapa personil harus kembali ke Liverpool pada akhir 1960. hanya Sutcliffe yang kemudian menetap di Jerman. Personil The Beatles lainnya melanjutkan bermain di berbagai club di Liverpool. Secara rutin mereka bermain di daerah Merseyside, tepatnya di sebuah klub legendaris bernama Tavern Club, tempat yang menjadi tonggak lahirnya Merseybeat Sound. Pada awal tahun 1961, Sutcliffe keluar dari band untuk memfokuskan diri pada pendidikannya sekolah seni di Jerman. McCartney lalu mengambil posisinya sebagai pemain bass. Di tahun yang sama, The Beatles kembali ke Hamburg, mereka kemudian mendapat kontrak rekaman pertama dari seorang produser Jerman, Bert Kaempert, untuk menjadi band pendamping seorang penyanyi gitaris rock British bernama Tony Sheridan. Rekaman itu bertajuk “Tony Sheridan & The Beat Brothers, dengan single “My Bonnie”.
Di tahun 1961, nama The Beatles semakin populer, terlebih di Liverpool. Tavern Club mengantarkan mereka bertemu dengan Brian Epstein, seorang pengusaha rekaman dan kolomnis musik, yang kemudian menjadi manajer mereka pada Januari 1962. Epstein mengajak mereka mengikuti audisi di Decca Records (beberapa track audisi kemudian dijadikan bootleg yang dirilis pada tahun 1995). Namun Decca Records menolak mereka begitu pula dengan beberapa label yang lain. Di tahun yang sama, usaha giat Epstein terbayar kala seorang produser bernama George Martin mengajukan surat kontrak kepada The Beatles dibawah label Parlophone, anak perusahaan EMI Records. The Beatles kemudian melakukan rekaman pertamanya dibawah Martin di Studio Abbey Road (milik EMI) di London pada Juni 1962. Kala itu, Martin menyatakan ketidaksukaannya pada Pete Best, ia mengajukan usulan kepada Epstein untuk mengganti Best dengan drummer studio. Lalu mereka menyewa Andy White sebagai Drummer. Pemecatan Best mengantar The Beatles bertemu dengan Ringgo Starr yang pada saat itu meninggalkan bandnya Rory Storm and the Hurricanes. Sebelum Ringgo resmi bergabung, Andy White masih mengisi track drum di single “Love Me Do” dan “P.S. I Love You”. Untuk kepentingan komersil, Epstein memberi masukan kepada The Beatles untuk menyempurnakan penampilannya dengan memakai pakaian rapi dan dasi, melengkapi potongan khas rambut mereka.
Inilah formasi terakhir yang terus bertahan hingga bubarnya nanti yaitu John Lennon pada gitar, McCartney pada Bass, George Harrison pada Gitar lead, Ringgo Starr pada Drum, dan semua personil menjadi penyanyi. Single “Love Me Do” membuat The Beatles terkenal saat itu. Popularitas mereka menanjak ketika tak lama kemudian mereka merilis single “Please Please Me/Ask me Why” pada bulan November yang kemudian mencapai puncak chart UK di awal 1930. Sepanjang tahun 1962 ini, The Beatles masih bermain di Hamburg hingga berakhir pada bulan Desember 1962.
KETENARAN GLOBAL (1963 – 1966)
Tahun 1963 menjadi tahun produktif untuk The Beatles. Diproduseri oleh George Martin, The Beatles memproduksi LP (Long Playing Records / album) secara Live di Abbey Road Studios. 10 tracks direkam melengkapi 4 tracks yang sudah dirilis sebelumnya. LP yang diberi tajuk “Please Please Me” itu kemudian dirilis pada Maret 1963. Materi di album ini menampilkan duet komposisi Lennon-McCartney yang kemudian menjadi prototype di album-album berikutnya. Ke produktif-an The Beatles diikuti dengan dirilisnya beberapa single, yaitu “From Me To You” pada bulan April yang juga merajai puncak Chart UK, dan single keempat “She Loves You” di bulan Agustus yang sukses menjadi single pertama yang terjual sejuta copy. Logo icon The Beatles juga diperkenalkan pertama kali di Tahun 1963 saat menghiasi cover bass drum Starr. Begitu pula dengan istilah “Beatlemania” yang lahir seiring menanjaknya kepopuleran mereka di pertengahan 1963. Hari-hari The Bealtes mulai diwarnai dengan banyaknya jadwal konser yang mana panggung mereka selalu ramai dengan fans yang berteriak dengan histeris. Tour luar negeri pertama mereka (selain di Hamburg) adalah ke Swedia pada bulan Oktober. Sepulangnya dari Swedia, mereka disambut oleh banyak fans dan wartawan yang mulai memaparkan mereka di headline media.
Disela jadwal tour, The Beatles juga menyempatkan diri merekam lagu sebagai materi untuk album berikutnya “With The Beatles”. Materi direkam memakai teknik studio recording (tidak live seperti sebelumnya) pada bulan Juli dan Oktober 1963. Sebelum album tersebut dirilis, mereka mengeluarkan single “I Want To Hold Your Hand” di bulan November. Sama seperti single sebelumnya, single inipun kembali menambah banyaknya fans yang menggilai mereka, sebuah fenomena musik yang belum pernah ada sebelumnya di UK. Album “With The Beatles” akhirnya resmi di rilis pada Januari 1964 yang secara umum berisi materi duet Lennon-McCartney. Album ini mendapat pujian dari Times melalui kritikus musik Willian Mann yang mengukuhkan duet Lennon-McCartney sebagai komponis Inggris yang mengagumkan.
AWAL BRITISH INVASION
Sejarah The Beatles pun sampai di tanah Amerika (US). Pada awalnya, perjalan lagu-lagu mereka tidak begitu mulus, Capitol Records, label independent di US, menolak untuk merilis beberapa single pertama band ini. Hingga akhirnya mereka merilis single “I Want To Hold Your Hand” yang kemudian merajai chart US dan terjual lebih dari 2,5 juta copy. Perjalanan The Beatles ke US dimulai pada 7 Februari 1964 yang menjadi tonggak Invasi Inggris (Brtitish Invasion). Mendarat di JFK Airport, mereka disambut sekitar 3000 fans. Penampilan pertama mereka di The Ed Sullivan Show disaksikan sekitar 74 juta orang atau setidaknya 40 persen populasi Amerika. Setelah itu, mereka mengadakan konser terbuka pertama di Washington Coliseum yang dibanjiri oleh ribuan beatlemania. Mereka kembali ke Inggris pada 22 Februari setelah sebelumnya tampil untuk kedua kalinya di The Ed Sullivan Show. Lagu-lagu The Beatles merajai posisi chart Billboard. Remaja Amerika pun mulai meniru gaya rambut dan berpakaian mereka. Tampilnya mereka di US menginspirasi banyak band Inggris untuk menyeberang Lautan Atlantik menuju Amerika, inilah British Invasion.
The Beatles memulai lagi tour internasionalnya pada bulan Juni 1964 menuju Belanda, Hongkong, Australia, dan New Zealand, lalu kembali lagi ke US. Tour mereka selalu dihiasi ribuan fans yang berteriak histeris yang menutupi kemampuan ampli mereka mengeluarkan musik yang mereka mainkan, sehingga para personil The Beatles tidak dapat mendengarkan apa yang mereka mainkan. Hal rutin ini lah yang kemudian membuat mereka bosan melakukan tour.
Tour ke US pada bulan Agustus membawa mereka pada sebuah pertemuan yang kemudian akan mengubah mereka. Mereka dipertemukan dengan seorang legenda Folk song Amerika yaitu Bob Dylan. Bisa dibayangkan dari latar belakang musik, lirik, penampilan, serta gaya hidup mereka yang berbeda jauh. Bob Dylan yang flamboyan, seorang kritikus sosial dan politik dengan lirik-lirik puitis yang tajam bertemu dengan 4 orang berpenampilan rapi yang membawakan rock and rol ‘manis’ yang penuh dengan lirik cinta. Dylan yang kemudian memperkenalkan The Beatles dengan Mariyuana. Ada kisah lucu dai kejadian ini, Dylan menawarkan Mariyuana karena dia salah mengartikan lagu “I Want To Hold Your Hand” pada kata ‘I can’t hide’ dan ‘I get high’ yang dipikirnya mengacu pada Mariyuana. Yah, pertemuan ini adalah pertemuan budaya yang sangat menginspirasi The Beatles di album-album berikutnya.
A HARD DAYS NIGHT, BEATLES FOR SALE, HELP!, HINGGA RUBBER SOUL
Pada kesempatan selanjutnya, The Beatles mulai merambah ke dunia per-film-an. Kurangnya perhatian Capitol Records membuat kompetitor lain mendekati The Beatles. Adalah United Artist Records melalui divisi film nya menawarkan kontrak film kepada The Beatles, dengan harapan akan diikuti oleh kontrak rekaman. Debut film pertama The Beatles berjudul “A Hard Day’s Night” yang di sutradarai oleh Richard Lester, digarap selama 6 minggu di bulan Mei-April 1964. Film ini bergaya semi dokumenter musikal yang menampilkan para personil The Beatles secara komikal dan komedi. Film ini pertama kali diputar di London dan New York pada bulan Juli dan Agustus dan menuai sukses.
Album Soundtrack “A Hard Day’s Night” dirilis pada bulan Juli 1964. Sama seperti album-album sebelumnya, album ini pun juga menuai sukses. Dalam album ini terlihat bahwa semua musik yang meng-influens mereka menyatu dan menampilkan ciri rock and roll The Beatles yang khas. Sound khas mereka pun mulai tampak di album ini. Materi dalam album ini memuat komposisi original dari Lennon dan McCartney, tanpa lagu cover. Secara umum dapat dikatakan bahwa di album ini lah The Beatles mulai menampilkan kesejatian musik mereka yang penuh keceriaan dan optimisme. Sound The Beatles yang khas, khususnya sound gitar resonant elektrik 12 senar yang dipakai Harrison kemudian menginfluens sound band The Byrds dalam meramaikan dunia rock and roll tahun 60an.
Belum hilang gegap gempita album “A Hard Day’s Night”, The Beatles kembali masuk ke dapur rekaman untuk menyelesaikan materi album studio ke lima nya, “Beatles for Sale”. Mereka menggarap materi ini selama bulan Agustus sampai Oktober 1964, album ini kemudian di rilis pada akhir tahun 1964. Secara materi album, format “Beatles For Sale” mengikuti dua album pertama yang banyak diisi dengan banyak lagu cover.
Memasuki tahun 1965, kehidupan The Beatles mulai diwarnai dengan kontroversi. Pada bulan April, The Beatles mulai berkenalan dengan LSD, yang diberikan oleh oleh dokter gigi Lennon dan Harrison. Pada bulan Juni, Ratu Elizabeth II menunjuk mereka menjadi Anggota Kerajaan Inggris (MBR), yang ditentang oleh beberapa anggota lain yang konservatif, karena kebiasaan penghargaan itu diberikan kepada militer ataupun pemimpin sipil.
Ditahun yang sama, The Beatles kembali menggarap film ke dua. Bertajuk “Help!”, film ini kembali di sutradarai oleh Richard Lester, yang kemudian dirilis pada bulan July 1964. Beberapa review mengatakan bahwa film ini sangat buruk dibandingkan dengan film sebelumnya, namun walau demikian film ini tetap mendapat kesuksesan komersil di pasaran. Materi soundtrack di album “Help!” hanya diisi oleh dua lagu cover. Di album ini, Harrison mulai menampilkan dirinya sebagai pencipta, ada dua lagu yang ia ciptakan untuk album ini. “Help!” juga menunjukkan perubahan pada diri The Beatles. Perubahan vocal Lennon dipengaruhi oleh Bob Dylan dan gaya musisi folk Amerika lain. Selain itu, album ke lima ini berisi sebuah lagu balada terkenal sepanjang masa yaitu “Yesterday“ yang diciptakan oleh McCartney. Adalah suatu tahapan baru ketika mereka mulai memasukkan unsur orkestra pada lagu ini.
The Beatles kemudian melakukan kunjungan ke US untuk yang ketiga kalinya pada Agustus 1965. Konser terbesar pada kunjungan ini adalah di New York’s Shea Stadium yang dihadiri sekitar 55.600 orang fans. Kemudian The Beatles melanjutkan 9 konser sukses lainnya di berbagai kota di Amerika. Di akhir kunjungan, The Beatles akhirnya bertemu dengan idola mereka yang menjadi pondasi musik mereka, Elvis Persley. Mereka kemudian mengobrolkan banyak hal dan melakukan jam session.
Album berikutnya, “Rubber Soul” dirilis pada bulan Desember 1965. Album ini mendapat banyak pujian karena menampilkan kedewasaan bermusik mereka. Banyak sekali peningkatan kualitas baik dari materi komposisi, lirik, dan berbagai sound yang dipakai. Pada Norwegian Wood (The Bird has Flown), merakai mulai memasukkan unsur sound tradisional seperti sitar, yang menjadi momentum dalam merombak unsur sound pada genre rock standar. Beberapa komposisi menandai mereka sudah memasuki ranah baru dalam bermusik seperti folk rock. Lirik The Beatles mulai mencerminkan perasaan terdalam mereka, yang kemudian disambut dengan banyak interpretasi berbeda tentang cerita dalam lagu-lagu mereka. Album ini menandai perubahan signifikan pada musik The Beatles yang kemudian tercermin di album-album berikutnya.
MENJADI BAND STUDIO
Di bulan Juni 1966, Capitol Records merilis sebuah album kompilasi The Beatles untuk pasar US. Album bertajuk “Yesterday and Today” itu menuai kontroversi dimana foto kulit album menampilkan personil The Beatles berpakaian ala tukang potong daging sedang tersenyum menyeringai dikelilingi potongan daging dan boneka bayi. Menurut The Beatles sendiri gambar itu adalah sebuah lelucon satri untuk Capitol Records dimana mereka mengartikan kompilasi berarti ‘memotong-motong’ lagu dari album mereka terdahulu. Tak lama kemudian album tersebut berganti kulit album. Kini album dengan gambar tukang potong daging tersebut menjadi koleksi langka yang tentunya para kolektor berani membayarnya dengan harga mahal. Tak lama setelah kontroversi cover, The Beatles kembali menjadi sorotan publik saat tour dunia mereka ke Filipina. Saat itu ibu negara Filipina, Imelda Marcos, mengundang The Beatles untuk sarapan bersama. Epstein menolak tawaran tersebut dengan sopan. Namun penolakan tersebut dianggap hinaan bagi rejim Marcos. Terjadilah kericuhan yang membahayakan mereka, walau akhirnya mereka dapat lolos keluar dari negeri itu dengan berbagai kesulitan.
Tak lama sekembalinya mereka, lagi-lagi sebuah kisah kontroversi terjadi. Kelompok agama dan sosial yang konservatif di US mengkritik mereka akibat komentar Lennon saat diwawancarai reporter Inggris Maureen Cleave mengatakan bahwa Kristiani sedang sekarat dan The Beatles lebih populer daripada Yesus. Berita ini kemudian muncul di majalah remaja US Datebook. The Beatles kemudian dilarang di bebereapa tempat. Afrika Selatan bahkan melarang pemutaran lagu The Beatles hingga akhirnya diizinkan kembali di tahun 1971. Epstein balas mengkritik Datebook dengan menyatakan bahwa tulisan mereka tidak sesuai dengan konteks wawancara saat itu. Lennon menyatakan bahwa saat itu ia menunjuk bagaimana orang-orang begitu mengelu-elukan mereka, sama seperti orang-orang menyukai televisi, dan dalam hal ini, seperti hal nya Televisi, The Beatles lebih populer dari Yesus. Pada akhirnya, Lennon pun meminta maaf kepada publik.
Terlepas dari kontroversi yang berkelanjutan tersebut, The Beatles kembali merilis sebuah album fenomenal lain pada bulan Agustus 1966. Album berjudul “Revolver” kembali mendapat pujian dari berbagai media. Salah satu komentar bahwa di album ini The Beatles kembali mengalami peningkatan kualitas dari album sebelumnya. The Beatles kembali dipuji atas berbagai eksperimen sound dan inovasi original pada materi lagu-lagu mereka. Perhatikan lagu “Tomorrow never knows “ yang berisi berbagai sound-sound yang terdengar aneh namun begitu menyatu dengan tema lagu mereka. Simak pula megahnya orkestrasi di lagu Eleanor Rigby yang begitu mendukung cerita satir lagu itu. Album ini juga dianggap sebagai salah satu momentum yang memperkuat perubahan musik mereka ke arah folk rock.
The Beatles mengambil sebuah keputusan brilian yang sangat mempengaruhi peningkatan kualitas berkali-kali lipat pada album mereka selanjutnya. Mereka memutuskan untuk tidak lagi melakukan tour, dengan kompensasi mereka memfokuskan diri pada rekaman studio. Berbagai hal mendasari keputusan ini, dari bosan melakukan konser, tidak dapat mendengarkan sound mereka disaat konser karena selalu tertutup dengan teriakan fans, hingga berbagai kasus kontroversi yang menerpa mereka. Konser komersil terakhir The Beatles terjadi di Candlestick San Franssisco pada 26 Agustus 1966.
Berbagai spekulasi dikeluarkan oleh media terkait keputusan tersebut. Segala opini dijawab The Beatles dengan keluarnya single “Penny Lane/ Strawberry Fields Forever” di bulan Februari 1967. Single tersebut dinyatakan sebagai single yang paling berkualitas dari single-single terdahulu. Dua lagu tersebut menandai era baru musik The Beatles.
Tak lama setelahnya, tepatnya pada bulan Juni 1967, keluarlah jawaban The Beatles atas keputusan brilian mereka untuk fokus pada rekaman. Album bertajuk “Sgt. Pepper Lonely Heart Club Band’ yang begitu fenomenal menandai puncak kualitas bermusik The Beatles. Majalah Rolling Stones menempatkan album Sgt. Pepper di urutan pertama di edisi 500 Greatest Albums of All Time. Album yang sangat konseptual ini menandai revolusi baru dalam sejarah musik rock yang dahulu ditandai oleh fenomena Elvis Perseley pada tahun 1956, dan fenomena Beatlemania tahun 1963.
Materi album Sgt. Pepper dipenuhi dengan berbagai eksperimen inovatif yang menandai begitu kompleks nya musik The Beatles. The Beatles kembali melakukan perombakan besar-besaran pada standar musik yang pernah ada, sehingga membuka berbagai inovasi lain yang dapat dilakukan orang-orang dalam bermusik. Semua lagu dalam album ini adalah masterpiece. Simaklah lagu memorial Lennon “A Day in the Life” yang berisi beragam sampling suara. Lirik lagu mereka semakin dalam dan puitis dengan aneka ragam tema cerita. Orang-orang pun mulai mempelajari lirik lagu mereka layaknya sebuah karya sastra yang membuka banyak interpretasi. “Lucy In The Sky With Diamonds” adalah lagu dengan lirik yang mengundang beragam interpretasi. Berbagai dugaan mengkaitkan lagu tersebut dipengaruhi narkotika, sesuai dengan judulnya yang bila disingkat akan menghasilkan “LSD”, salah satu produk narkotika yang kerap dikonsumsi para Beatle. Tak hanya di materi lagu, desain kulit album dan penampilan personil The Beatles juga mengalami perubahan yang menandai kedewasaan mereka. Secara umum, berbagai hal, bahkan hal yang begitu detail, dalam album ini mendapat sorotan dan pujian.
Pada25 Juni, The Beatles kembali mengeluarkan single barunya, “All You Need is Love” yang menjadi lagu kebangsaan gerakan generasi bunga saat itu. Single tersebut disiarkan secara global pada Our World (International TV Special), sebuah tv jaringan pertama. Beberapa bulan kemudan, mereka pergi kepada Maharishi Mahesh Yogi di Bangor untuk melakukan meditasi transen karena mereka merasa kondisi psikologis mereka kurang baik saat itu. Ditengah proses, datanglah sebuah kabar yang sangat buruk. Manajer mereka Brian Epstein ditemukan tidak bernyawa akibat overdosis. Emosi Epstein yang rapuh saat itu dipengaruhi oleh berbagai hal seperti misalnya ketakutannya The Beatles tidak akan memperpanjang kontrak dengannya dan berbagai masalah bisnis lainnya. Kematian Epstein jugalah yang dipercaya membuat The Beatles kehilangan kendali seorang pemimpin, yang kemudian membuat mereka tak kuasa meredam konflik antar personil.
Kematian Epstein sangat memukul hati mereka. Walau dalam keadaan tertekan, mereka tetap memproduksi proyek film berikutnya. Film berjudul “Magical Mistery Tour” yang mereka sutradarai sendiri, yang kemudian diputar pada menjelang Natal Desember 1967. Berbeda dengan film nya yang mendapat banyak kritikan pedas, soundtrack film ini mendapat tanggapan positif karena kualitasnya yang sebanding dengan album sebelumnya. Di Inggris, soundtrack ini dirilis sebagai EP berisikan 6 lagu yang dirilis awal Desember. Sedangkan di Amerika, soundtrack ini dirilis sebagai LP ditambah 5 lagu dari single-single mereka sebelumnya. Sebulan kemudian yaitu Januari 1968, The Beatles tampil sebagai cameo di produksi film animasi “Yellow Submarine”. Film ini kemudian dirilis pada bulan Juni 1968. Soundtrack-nya sendiri dirilis 7 bulan berikutnya.
Masih dalam keadaan penuh tekanan, The Beatles kembali ke Maharishi untuk melanjutkan meditasi-nya. Namun proses tersebut tidak bertahan lama, satu persatu mereka kembali. Harrison yang paling lama tinggal disana. Lennon sendiri meninggalkan Maharishi karena dia mendapat kabar bahwa Maharishi bermaksud me manipulasi band mereka, dan Lennon mengetahui Maharishi melakukan pelecehan sexual kepada muridnya. Namun dalam proses tersebut, The Beatles banyak mendapat inspirasi lagu untuk album berikutnya.
Sekembalinya The Beatles dari meditasi, mereka menggarap proyek album yang kemudian dirilis sebagai double album. Album yang dikenal sebagai “White Album” itu mempunyai sampul cover yang sederhana, secara umum berwarna putih, yang didedikasikan untuk Epstein. Album ini adalah album pertama yang dirilis di label Apple Records, label yang dibentuk The Beatles untuk mewujudkan impian Epstein. Dari proses rekaman album ini mulai terlihat perpecahan dalam diri The Beatles. Ketidak disiplinan Starr yang sering meninggalkan proses produksi. Lennon yang saat itu tengah berpacaran dengan Yoko Ono, seorang artis avant-garde dari Jepang, yang mana ia selalu membawa Ono ke studio ditentang oleh anggota Beatles lainnya, karena dianggap memecah konsentrasi. Lennon sendiri mulai mengkritik McCartney dengan mengatakan beberapa lagunya sperto Ob-La-Di, Ob-La-Da terdengar seperti musik tua. Album ini kemudian dirilis pada bulan November 1968 dan mendapat kritikan yang beragam. Beberapa menganggap kualitas album ini tidak sebanding dengan dua album sebelumnya. Di album ini, Lennon dan McCartney tidak menunjukkan peningkatan kualitas di lagu-lagu mereka, namun tidak demikian dengan Harrison yang mendapat banyak pujian atas beberapa lagu nya. Di album ini, musik The Beatles tidak nampak menyatu sebagai band seperti musik mereka di album terdahulu, namun lebih menonjolkan karakter masing-masing personil.
Di awal 1969, soundtrack “Yellow Submarine” dirilis. Album ini berisi 4 track lagu baru, beberapa lagu dari single terdahulu, serta 7 lagu instrumental komposisi George Martin. Di album ini, Harrison kembali mendapat pujian untuk komposisi “It’s All Too Much” dan “Only A Northern Song” yang semakin mengukuhkan diri nya sebagai pencipta lagu berkualitas.
DUA ALBUM TERAKHIR… DAN BERAKHIRLAH SUDAH
Dua album terakhir dirilis The Beatles dirilis akhir Tahun 1965 dan pertengahan 1970, yaitu “Abbey Road” dan “Let It Be”. Walaupun “Let It Be” adalah album terakhir yang dirilis The Beatles, namun materinya direkam sebelum “Abbey Road”. Pada awalnya The Beatles memang akan merilis “Let It Be”, namun karena tidak menyukai hasil rekamannya, mereka memutuskan menunda album tersebut. Pada awalnya, judul album ini bukanlah “Let It Be”, melainkan “Get Back”. Ide konsep album ini berawal dari McCartney yang ingin kembali membuat album live. Ia merasa The Beatles terlalu berfokus pada studio dan berbagai eksperimen musik sehingga mengurangi sense mereka sebagai sebuah band. Saat itu hubungan antar anggota sedang buruk-buruknya. Perseteruan tampak diantara duo komponis utama Lennon-McCartney. Harrison pergi selama satu minggu, dan sekembalinya dia membawa seorang teman Billy Preston yang nantinya mengisi keyeboard pada lagu “Get Back”. Pilihan lokasi konser cenderung kontroversial yaitu di atap gedung Apple Corps, 3 Savile Row, London. Akhirnya mereka mengadakan konser terakhir tersebut pada tanggal 30 January 1969. Konser tersebut membuat penonton ramai baik yang memenuhi jalanan sekitar Apple Corps, maupun penonton yang menaiki atap gedung lain terdekat, demi melihat idola mereka. Konser tersebut berakhir setelah polisi menghentikan mereka karena suara nya yang mengganggu. Beberapa materi lainnya direkam di studio Abbey Road EMI.
Beberapa waktu setelah rekaman tersebut kembali terjadi perseteruan diantara personil The Beatles. Kali ini masalah bisnis, yaitu pemilihan manajer. Lennon, Harrison, dan Starr memilih Allen Klien, seorang bisnisman yang telah membawa kontrak band The Rolling Stones dan band UK lainny selama British Invasion. McCartney sendirian lebih memilih John Eastman, saudara istrinya Linda Eastman. Tidak adanya kesepakatan membuat keduanya dipilih menjalankan bisnis The Beatles.
Proses rekaman “Let It Be” yang penuh perseteruan membuat George Martin pesimis akan kelanjutan The Beatles. Ia menganggap proses “Let It Be” adalah yang terakhir untuk mereka semua. Ia terkejut ketika McCartney menghubunginya untuk kembali memproduksi album. Tanpa membuang waktu, mereka pun kembali masuk studio rekaman. Proses rekaman “Abbey Road” dimulai pada akhir Februari. Martin memberi ide konsep album dimana materi lagu per lagu diputar sambung menyambung (medley). Lennon menolak ide tersebut dan menawarkan bahwa lagu miliknya dan lagu milik McCartney dipisah di dua sisi (side). Akhirnya konsep kompromis album tersebut adalah satu sisi memuat lagu-lagu ciptaan personal, sisi lainnya memakai konsep medley, yang kemudian dikenal sebagai “Abbey Road Medley”. Pada saat proses rekaman, Lennon merilis single solo, diluar The Beatles, berjudul “Give Peace a Chance”, bersama Plastic Ono Band. Semementara rekaman “Abbey Road” diakhiri dengan lagu “I Want You (She’s So Heavy)” pada 20 Agustus 1969, yang adalah saat terakhir keempat Beatles bersama di dalam studio. Lennon memutuskan keluar dari band pada 20 September, tapi mereka tidak mempublikasikannya sampai berbagai hal menyangkut perjanjian kerjasama diselesaikan. “Abbey Road” terjual 4 juta copy dalam 2 bulan. Album ini menampilkan masterpice dari Harrison yaitu “Something”, dimana harmony dan melody dalam lagu itu mendapat banyak pujian. Secara umum, album ini mendapat pujian positif.
Kembali ke proses rekaman panjang “Let It Be” yang akhirnya selesai pada January 1970 saat merekam lagu Harrison “I Me Mine”. Materi album kemudian di berikan kepada Phil Spector untuk di final kan. Spector adalah seorang produser dari US yang pada waktu itu juga memproduseri single Lennon, “Instant Karma”. Spector memasukkan komposisi orkestranya dalam lagu McCartney “The Long and Winding Road”. McCartney tidak menyukai hasil dari Spector, namun terlambat untuk merivisi karena “Let It Be” telah terlanjur rilis pada 8 Mei 1970. Film dokumenter “Let It Be” dirilis tak lama setelahnya. Album terkahir The Beatles ini adalah album yang paling banyak mendapat kritikan negatif dari media.
McCartney akhirnya memutuskan keluar dari The Beatles dan mengumumkannya tanggal 10 April 1970. Pengumuman ini ia nyatakan dalam pers released untuk album solo nya. Konflik berlanjut saat rilis debut album solo McCartney yang berbarengan dengan “Let It Be”. Personel meminta McCartney untuk menuda rilis albumnya, namun ia menolak karena kekecewaannya pada hasil Spektor pada lagu “The Long and Winding Road” ciptaannya. Setelah itu… The Beatles akhirnya bubar.
LALU SETELAH ITU…
Setelah bubar, para mantan personel The Beatles tetap bermusik dengan proyek pribadi masing-masing. Terkadang satu personel ikut terlibat dalam proyek personel lain. Dalam proyek-proyek pribadi mereka, terlihat berbagai karakter bermusik asli masing-masing personel. Lennon sebagai musisi dengan berbagai lagu rock dan balada berlirikkan propaganda damai dan anti perang. McCartney dengan Pop manisnya. Harrison dengan lagu “kebatinan” yang selalu dibalut influens musik India. Starr dengan rock easy listening-nya. Dari semuanya, Lennon lah yang paling produktif menghasilkan lagu legendaris seperti “Imagine”, “Give Peace a Chance”, “Mother”, dan lain-lain. McCartney mengalami puncak jaya paska The Beatles saat ia mendirikan band Wings, walau sebenarnya tidak menyamai prestasi Lennon. Ada berbagai rumor beredar mengenai reuni The Beatles. Rumor itu akhirnya terpatahkan dengan kabar duka tertembak mati-nya John Lennon pada 8 Desember 1980 di New York. Lennon dibunuh oleh fans nya bernama Mark David Chapman. Pada 29 November 2001, kabar duka kembali terdengar, George Harrison menyusul Lennon. Kematiannya disebabkan kanker paru-paru.
Karya The Beatles terus di gandakan, diedit ulang, di kumpulkan, diolah kembali, dan ditemukan. Tiga personel The Beatles McCartney, Harrison, dan Starr, di tahun 1994 sempat bereuni dalam menjalankan proyek “Anthology”. Saat itu Lennon diwakili oleh mantan istrinya Yoko Ono. Proyek “Anthology” adalah beberapa dokumentasi baik saat mereka rekaman maupun latihan, lagu-lagu yang belum pernah dirilis, maupun berbagai percakapan terkait mereka tergabung dalam sebuah band paling fenomenal sepanjang sejarah, The Beatles.
Hits:
Hey Jude
Let It Be
Dont Let Me down
Sumber: https://indonesianbeatles.wordpress.com/2011/04/06/sejarah-the-beatles/
Profil band Noah (Peterpan)
NOAH (sebelumnya bernama Peterpan) adalah sebuah band dari Bandung, Indonesia. Band ini dibentuk pada tahun 2000 dan terkenal berkat lagu-lagunya "Ada Apa Denganmu", "Topeng", dan "Kukatakan Dengan Indah". Pada awalnya kelompok Noah terdiri dari Ariel, Uki, Lukman, Reza,Andika, dan Indra. Namun di bulan November 2006, dua anggotanya, Andika dan Indra dipecat dari grup musik tersebut. Perpecahan ini dipicu adanya perbedaan prinsip kreativitas.
Sejarah Terbentuknya Band ini
tahun 1997, Andhika (kibor) membentuk band Topi dengan mengajak adik kelasnya di SMU 2 Bandung, Uki (gitar), serta teman mainnya, Abel (bas) dan Ari (drum). Uki pun mengajak teman SMP-nya Ariel yang mengisi posisi vokal. Dengan formasi seperti itulah, mereka mulai manggung dan memainkan musik beraliran Brits alternatif. Kemudian Ari mengundurkan diri dan Topi pun bubar tanpa sebab yang pasti.
Andika mengumpulkan kembali personel Topi pada tahun 2000. Namun kali ini, posisi drum dipegang oleh Reza. Untuk memberi warna musik yang lebih dewasa dan lebih kaya melody, maka diajaklah Loekman, teman kakak Indra, yang akhirnya jadi lead guitar (gitar utama). Setelah terbentuk dengan formasi enam orang, mereka pun mengambil nama Peterpan. Tanggal 1 September 2000 secara resmi peterpan terbentuk.
Perjalanan profesional Peterpan dimulai tahun 2001 dengan merambah dari café ke café di Bandung. Mereka bermain di café O'Hara dan Sapu Lidi dengan membawakan lagu-lagu top 40, serta alternative rock seperti Nirvana, Pearl Jam, Cold play, U2, Creed, dll. Saat di café Sapu Lidi-lah potensi mereka terlihat oleh Noey, basis Java Jive yang sedang mencari band untuk mengisi album kompilasi. Dari tiga lagu yang dikirim untuk demo, "Sahabat", "Mimpi Yang Sempurna", dan "Taman Langit", terpilih lagu "Mimpi Yang Sempurna" untuk dimasukan ke album kompilasi Kisah 2002 Malam yang dirilis Juli 2002. Tak disangka lagu tersebut menjadi jagoan album ini dan mendongkrak penjualan sampai di atas 150.000 kopi.
Tahun 2000 merupakan titik awal dalam perjalanan karir musik 6 anak muda Bandung ini, karena pada saat itulah mereka bersama-sama membentuk sebuah band yang kemudian diberi nama Peterpan. Formasi mereka saat itu adalah Andika (keyboard), Ariel (vokal), Uki (gitar), Lukman (gitar), Indra (bass), dan Reza (drum). Secara resmi, Peterpan terbentuk pada tanggal 1 September 2000.
Harapannya sederhana. Mereka hanya ingin menjadi home band cafe ternama. Tahun 2001, Peterpan mulai merambah beberapa cafe antara lain O’Hara Tavern dan Sapu Lidi yang menjadi tempat mereka menyajikan lagu-lagu alternative rock,
Mereka mengirimkan demo berisi 3 lagu, yaitu Sahabat, Mimpi yang Sempurna dan Taman Langit. Akhirnya lagu Mimpi yang Sempurna terpilih untuk mengisi album kompilasi Kisah 2002 Malam. Mimpi yang Sempurna menjadi lagu andalan album kompilasi ini dan mendongkrak angka penjualan hingga 150.000 kopi. Lagu ini masuk ke dalam jajaran tangga musik di banyak radio nasional, dan menjadi lagu wajib para pengamen jalanan. Suatu harapan lain dari Peterpan mulai terwujud sedikit demi sedikit. Musik mereka mulai beterbangan dan bisa dinikmati oleh hampir semua orang di seluruh negeri.
Sukses tersebut membuka kesempatan baru bagi Peterpan. Tahun 2003, Peterpan, di bawah label Musica Studio, meluncurkan debut album Taman Langit. Dengan variasi sound yang apik, kesederhanaan lirik, kekhasan vocal Ariel yang disajikan Peterpan dalam album debut ini, musik Peterpan dengan mudah meresap di telinga penggemar musik Indonesia. Album debut Taman Langit meraih penghargaan Multi Platinum Award dan SCTV Award sebagai Album dan Band Pendatang Baru ngetop.
Mei 2004, Peterpan kembali masuk studio rekaman untuk mempersiapkan album ke-2 mereka yang direncanakan rilis pada bulan Agustus. Dalam tahap akhir persiapan album, demi penghargaan mereka pada para sahabat Peterpan, mereka menggelar konser di 6 kota di Jawa dan Sumatera dalam waktu 24 jam pada tanggal 18 Juli 2004. Konser bertajuk “Breaking The Record, Konser Untuk Sahabat” dimulai di Medan, lalu dilanjutkan ke Padang, Pekanbaru, Lampung, Semarang, dan diakhiri di Surabaya. Konser ini juga diakui sebagai salah satu rekor MURI.
Agustus 2004, Peterpan merilis album ke 2 Bintang di Surga. Seminggu setelah peluncuran album, Bintang di Surga mencapai angka penjualan 1 juta copy dengan single pertama Ada Apa Denganmu. Sebutan A Phenomenon Band pun melekat pada Peterpan, yang kemudian mensejajarkan Peterpan dengan band-band papan atas di negeri ini. Pada masa kritis industri musik Indonesia, album Bintang di Surga berhasil mencapai angka penjualan 3 juta kopi, dan meraih penghargaan demi penghargaan. Tak kurang dari 13 penghargaan dari dalam dan luar negeri diraih oleh Peterpan lewat album Bintang di Surga, diantaranya 7 penghargaan AMI AWARD, 2 SCTV Award, Triple Platinum Award, dan Platinum Berkembar Enam dari Malaysia, serta MTV Music Award pada tahun 2005.
September 2005, Peterpan merilis Album Soundtrack film Alexandria, dan lagi-lagi meraih Multi Platinum Award untuk penjualan album soundtrack tersebut dan SCTV Award. Single pertama , tak hanya menembus tangga lagu nasional, tetapi juga dibajak oleh musisi India, diaransemen ulang dan diubah liriknya ke dalam bahasa India. Lagu …. Versi India tersebut dinyanyikan , kemudian masuk dalam tangga lagu nasional India dan menjadi soundtrack film.
Juni 2006, setelah menghadiri penganugrahan MTV Music Award mereka yang ke 2, Peterpan memutuskan rehat panjang untuk mempersiapkan album ke 3 yang rencananya akan dirilis akhir tahun. Tetapi kondisi dan situasi yang terjadi di dalam tubuh Peterpan membuat rencana tersebut tak dapat berjalan.
Oktober 2006, Peterpan retak. Indra dan Andika keluar dari Peterpan, karena adanya ketidaksamaan visi dalam bermusik dengan, Ariel, Uki, Lukman, dan Reza. Masalah demi masalah bermunculan menghantam Peterpan. Tetapi 4 personil yang tersisa di Peterpan tetap bersemangat untuk menyelesaikan album ke 3 mereka.
Rumor perpecahan di tubuh Peterpan ternyata terbukti. Indra dan Andhika akhirnya dikeluarkan dari grup musik terkenal asal Bandung ini.
"Sekarang aku sama Indra sudah tidak di Peterpan lagi. Kita dikeluarkan secara baik-baik pada tanggal 8 Oktober kemarin," ungkap mantan pemain keyboard Peterpan. Andhika mengaku sempat terkejut dengan keputusan pemecatannya ini. Pada hari pemecatan itu, ia bersama Indra dipanggil di sebuah kafe di Bandung oleh manajer Peterpan. Di tempat tersebut telah berkumpul Ariel, Uki, Lukman, dan Reza beserta Joy, manajer Peterpan. "Kalau dibilang kaget, ya kaget juga karena sebelum tanggal itu dirinya sempat kumpul-kumpul dan ketawa bareng dengan mereka," cerita Andhika.
Bak ditikam dari belakang, Andhika dan Indra dipaksa hengkang dari band yang sudah menjadi bagian hidup dari mereka. Sebab, keempat rekannya yang masih di Peterpan menyetujui vonis pemecatan tersebut. Padahal, selama ini mereka telah dianggap sebagai keluarga. "Alasannya, karena aku tak bisa kerja lagi dengan mereka. Aku enggak nyangka aja," ungkap Adhika.
Bagi Andhika, alasan visi musik yang sudah berbeda dengan teman-temannya itu hanyalah kedok mereka untuk pemecatan tersebut. Soalnya, sebagai pendiri Peterpan, Andhika mengaku telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk eksistensi musik Peterpan. Lagu Bintang di Surga adalah hasil karya pemain keyboard ini. Ironisnya, nama Peterpan tersebut ternyata pemberian dari ibunda Andhika. Lantaran itu, Andhika menjelaskan nama Peterpan sudah seharusnya dicopot dari belantika musik Indonesia akibat pemecatan dirinya. "Maunya aku sih karena kontrak sudah habis, ganti nama (grup musik) aja kalau sudah berempat," kata pendiri grup Peterpan ini.
Mei 2007, setelah vakum hampir 1 tahun, Peterpan merilis album ke 3, Hari yang Cerah. Gaya bermusik dan aransemen yang agak berbeda dari album-album sebelumnya, Peterpan semakin memperlihatkan kematangan mereka dalam bermusik. Pada album ini, Peterpan melibatkan 2 additional band, David (keyboard) dan Lucky (bass). Saat ini, album Hari Yang Cerah telah membukukan angka penjualan di atas 500.000 copy. Di sela-sela jadwal promo yang padat, Peterpan mendapat undangan untuk mewakili Indonesia di ajang Asia Song Festival yang ke-4 di Korea Selatan pada September lalu. Dari Korea, Peterpan membawa oleh-oleh penghargaan Best Contribution Award.
Waktu dan perjalanan yang panjang...sejak 6 orang anak muda Bandung mengawali karir musik mereka lewat sebuah album kompilasi Kisah 2002 Malam, lewat sebuah lagu berjudul Mimpi yang Sempurna.
Tanggal 2 Agustus 2012 menjadi sejarah baru bagi Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David. NOAH telah dipilih Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David menjadi nama yang akan mewakili mereka di dunia musik kedepannya. Nama Peterpan memang sudah lama ditinggalkan mereka, ada banyak prestasi yang dicapai ketika masih menggunakan nama Peterpan. Namun sekarang nama NOAH akan mewakili mereka berkarya di dunia musik.
Nama NOAH sendiri menurut Ariel dipilih karena nama itu terasa sangat mewakili musik mereka. NOAH menurut Uki bukan diambil dari nama Nabi Nuh. Dalam konferensi pers yang diadakan di Musica Studio’s Uki berkata bahwa NOAH dapat berarti membuat nyaman, memberi ketenangan dan panjang umur.
Sesaat setelah mengumumkan nama NOAH sebagai nama band dari Ariel, Uki, Lukman dan David, berbagai ucapan selamat datang dari masyarakat lewat akun twitter. Dalam sesaat topik “Welcome NOAH” menjadi Trending Topic Worldwide dan bertahan di jejeran atas dalam waktu cukup lama. Akun twitter @newpeterpanband pun ikut berganti nama menjadi @NOAH_ID sesaat setelah pengumuman.
Ternyata kehadiran Ariel, Uki, Reza dan David masih sangat diharapkan kehadirannya di blantika musik tanah air. Ucapan selamat datang pun tidak hanya datang dari masyarakat umum tetapi juga dari kalangan selebritis. Salah satunya Gading Marten melalui akun twitternya @gadiiing menulis : “Welcome @NOAH_ID .. Menunggu kesuksesan kalian yg tertunda.. Gas puoooolllll masbrooo!!!!”
Selamat datang NOAH! Selamat menciptakan hits-hits berikutnya!
Sumber : http://arvierosa.blogspot.co.id/2012/09/mengupas-sejarah-peterpan-sampai.html
http://rianlenggu14.blogspot.co.id/
Minggu, 24 April 2016
Sejaraha terbentuknya Dewa 19
Dewa 19 adalah sebuah grup musik yang dibentuk pada tahun 1986 di Surabaya, Indonesia. Grup ini telah beberapa kali mengalami pergantian personel dan formasi terakhirnya saat ini adalah Ahmad Dhani (kibor), Andra Junaidi (gitar), Yuke Sampurna (bass) dan Agung Yudha (drum). Setelah merajai panggung-panggung festival di akhir era 1980-an, Dewa 19 kemudian hijrah ke Jakarta dan merilis album pertamanya pada tahun 1992 di bawah label Team Records.
Grup ini telah meraih kesuksesan sepanjang dekade 1990-an dan 2000-an melalui serangkaian lagu-lagu bergenre rock dan pop. Album yang mereka rilis nyaris selalu mendapat sambutan bagus di pasaran, bahkan album mereka yang dirilis tahun 2000, Bintang Lima, merupakan salah satu album terlaris di Indonesia dengan penjualan hampir 2 juta keping. Pada tahun 2005, majalah Hai menobatkan Dewa 19 sebagai band terkaya di Indonesia dengan pendapatan mencapai lebih dari 14 miliar setahun. Di tengah kesuksesan yang diraihnya, grup ini sempat beberapa kali tersandung masalah hukum, termasuk masalah pelanggaran hak cipta dan perseteruan dengan ormas Islam.
Sepanjang perjalanan kariernya, Dewa 19 telah menerima banyak penghargaan, baik BASF Awards maupun AMI Awards. Mereka juga pernah meraih penghargaan LibForAll Award di Amerika Serikat atas kontribusi mereka pada upaya perdamaian dan toleransi beragama. Pada tahun 2008, Dewa 19 masuk ke dalam daftar "The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa" oleh majalah Rolling Stone. Dewa diakui sebagai salah satu legenda atau ikon terbesar dalam sejarah musik populer Indonesia.
PERJALANAN KARIER
1986–1991: Awal pembentukan
Dewa pertama kali dibentuk pada tahun 1986 oleh empat orang siswa SMP Negeri 6 Surabaya. Nama Dewa merupakan akronim dari nama mereka berempat: Dhani Ahmad (keyboard, vokal), Erwin Prasetya (bass), Wawan Juniarso (drum) dan Andra Junaidi (gitar). Mereka memiliki markas tempat berlatih di rumah Wawan di Jalan Darmawangsa Dalam Selatan No. 7, yang terletak di komplek Universitas Airlangga.
Dewa yang awalnya muncul dengan musik yang lebih pop, kemudian berubah haluan menjadi jazz setelah Erwin memperkenalkan musik jazz ke grup ini. Wawan yang merupakan penggemar berat musik rock kemudian memutuskan keluar pada tahun 1988 dan bergabung dengan Outsider yang antara lain beranggotakan Ari Lasso. Posisi Wawan kemudian digantikan oleh Salman dan nama Dewa pun diubah menjadi Down Beat, yang diambil dari nama majalah jazz terbitan Amerika Serikat. Di kawasan Jawa Timur dan sekitarnya, nama Down Beat waktu itu cukup terkenal, terutama setelah berhasil merajai panggung festival. Sebut saja Festival Jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA '90 atau juara II Jarum Super Fiesta Musik.
Ketika nama Slank berkibar Wawan kembali dipanggil untuk menghidupkan Dewa, dengan mengajak pula Ari Lasso. Nama Down Beat pun berubah menjadi Dewa 19, karena waktu itu rata-rata usia personelnya 19 tahun dan lulusan SMA tahun 1991. Kali ini, Dewa 19 hadir dengan mencampuradukkan beragam musik jadi satu: pop, rock, bahkan jazz, sehingga melahirkan alternatif baru bagi khasanah musik Indonesia saat itu.
Salah seorang teman sekelas Wawan, Harun ternyata tertarik pada konsep tersebut dan menawarkan investasi sebesar Rp 10 juta untuk memodali teman-temannya membuat master rekaman. Karena di Surabaya tidak ada studio yang memenuhi syarat, mereka terpaksa pergi hijrah ke Jakarta meskipun dengan modal yang pas-pasan.
Album Dewa 19 (1992)
Daftar lagu
1. Kangen
2. Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi
3. Bayang-Bayang
4. Selamat Pagi
5. Swear
6. Bayi 19
7. Rein
8. Dewa & Si Mata Uang
9. Hanya Mimpi
Dewa 19 menyelesaikan pembuatan master album perdana mereka di Jakarta. Setelah itu, Andra, Ari, Erwin, dan Wawan kembali ke Surabaya sementara Dhani tetap di Jakarta untuk mencari label rekaman yang bersedia mengorbitkan mereka. Dhani kemudian berkeliaran di penjuru kota Jakarta, dari satu perusahaan rekaman ke perusahaan rekaman lain menggunakan bus kota. Awalnya banyak perusahaan rekaman yang menolak mereka karena menganggap lagu mereka kurang menjual. Master rekaman Dewa 19 akhirnya dilirik oleh Jan Djuhana dari Team Records, yang pernah sukses melejitkan KLa Project.
Pada tahun 1992, Dewa meluncurkan album pertamanya yang bertajuk Dewa 19. Di luar dugaan album perdana mereka meledak dan laris di pasaran, sehingga Team Records yang notabene merupakan label kecil terpaksa meminta Aquarius Musikindo untuk mengabil alih produksi album ini. Album ini melahirkan singel berjudul "Kangen" dan "Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi" yang sukses mendapat tempat di hati pecinta musik Indonesia. Nama Dewa 19 pun seketika melejit di blantika musik Indonesia. Melalui album ini Dewa 19 berhasil menyabet 2 penghargaan di BASF Awards 1993, masing-masing untuk kategori "Pendatang Baru Terbaik" dan "Album Terlaris 1993".
Album Format Masa Depan (1994)
Daftar lagu
1. Aku Milikmu
2. Masihkah Ada
3. Still I'm Sure We'll Love Again
4. Sembilan Hari & Liberty
5. Format Masa Depan
6. Mahameru
7. Imagi Cinta
8. Selamat Ulang Tahun
9. Deasy
10. Tak 'Kan Ada Cinta Yang Lain
Pada tahun 1994, Dewa 19 merilis album kedua mereka yang berjudul Format Masa Depan. Di tengah penggarapan album ini, Wawan hengkang dari Dewa 19 dan kemudian digantikan sementara oleh pemain pembantu Rere Reza drummer di Grass Rock (sekarang drummer pembantu di ADA Band). Terhitung sejak 24 September 1994 Aquarius Musikindo resmi menjadi label Dewa 19 menggantikan Team Records. Album ini menelurkan singel berjudul "Aku Milikmu" dan "Tak Akan Ada Cinta Yang Lain".
Album Terbaik Terbaik (1995)
Daftar lagu
1. I P S
2. Cukup Siti Nurbaya
3. Satu Hati (Kita Semestinya)
4. Terbaik Terbaik
5. Hanya Satu
6. Cinta ‘Kan Membawamu Kembali
7. Manusia Biasa
8. Restoe Boemi
9. Hitam Putih
10. Jalan Kita Masih Panjang
11. Jangan Pernah Mencoba
Pada tahun 1995, Dewa merilis album bertajuk Terbaik Terbaik. Wong Aksan kemudian bergabung dan menempati posisi drummer. Album ini memiliki konsep musik pop rock yang dikembangkan dengan menambah unsur-unsur jazz, folk, funk dan ballad. Banyak pengamat musik meyakini bahwa inilah album terbaik yang pernah dibuat Dewa 19 yang mengukuhkan mereka sebagai salah satu grup band besar terkreatif di Indonesia. Majalah Rolling Stone edisi Desember 2007, menempatkan album ini di posisi 26 dalam daftar "150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa". Sementara itu, singel pertamanya yang berjudul "Cukup Siti Nurbaya" berada di peringkat 20 dalam daftar "150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa" oleh majalah Rolling Stone edisi Desember 2009.
Selain "Cukup Siti Nurbaya", album Terbaik Terbaik juga melejitkan singel hit lain seperti "Satu Hati (Kita Semestinya)" dan lagu balada "Cinta 'Kan Membawamu Kembali". Lewat album ini Dewa kembali meraih penghargaan BASF Awards untuk "Grup Musik Rock Terbaik", "Grup/Duo Rekaman Terbaik" serta "Tata Musik Rekaman Terbaik". Video klip "Cukup Siti Nurbaya" juga mendapat penghargaan sebagai "Video Klip Terbaik" di ajang Video Musik Indonesia. Album Terbaik Terbaik telah sukses terjual sebanyak 500.000 keping di Indonesia. Sejak album ini pula Dewa 19 mulai menggunakan istilah Baladewa untuk menyebut para penggemar fanatiknya.
Album yang memuat 11 lagu ini direkam sejak bulan Oktober 1994 hingga Mei 1995 di berbagai studio: Gin's Studio, Triple M, Studio 15 dan RJ Studio, serta dimasterkan di Don Bartley, 301 Studio, Australia. Pada album ini Putra Jaya Husin bertindak sebagai Executive Producer dan Ahmad Dhani bertindak sebagai produser dan menciptakan hampir semua lagu di album ini. Album ini memiliki konsep musik pop rock yang dikembangkan dengan menambah unsur-unsur jazz, folk, funk dan ballad. Untuk foto-foto dan sampul album digarap oleh Dimas Djayadiningrat.
Album Pandawa Lima (1997)
Daftar lagu
1. Kirana
2. Aku Disini Untukmu
3. Bunga
4. Suara Alam
5. Sebelum Kau Terlelap
6. Satu Sisi
7. Aspirasi Putih
8. Cindi
9. Petuah Bijak
10. Selatan Jakarta
11. Kamulah Satu-Satunya
Album keempat Dewa 19 yang berjudul Pandawa Lima dirilis pada tahun 1997. Melalui album ini, Dewa 19 sukses meraih 6 penghargaan di Anugerah Musik Indonesia 1997, yaitu untuk "Lagu Alternatif Terbaik", "Lagu Terbaik Umum", "Duo/Grup Alternatif Terbaik", "Album Rhythm & Blues Terbaik" serta "Sampul Album Terbaik".
Album ini melahirkan sejumlah hits di antaranya berjudul "Kirana" dan "Kamulah Satu-Satunya". Kedua lagu ini berhasil memenangkan penghargaan Video Musik Indonesia sebagai "Video Klip Favorit". Pandawa Lima telah sukses terjual lebih dari 800 ribu keping dan mendapat sertifikat 5x Platinum.
KONFLIK & PERPECAHAN
Pada tanggal 4 Juni 1998, Wong Aksan resmi dikeluarkan dari Dewa 19 akibat permainannya yang terlalu kental dengan corak jazz. Ia digantikan oleh Bimo Sulaksono (mantan anggota Netral). Tak lama kemudian Bimo keluar dari grup ini dan bergabung dengan Bebi untuk membentuk grup Romeo.
Dewa 19 juga menghadapi masalah akibat dua personelnya, Ari Lasso dan Erwin Prasetya mengalami ketergantungan berat narkoba. Selain menghancurkan kehidupan pribadi mereka, narkoba juga melumpuhkan seluruh aktivitas Dewa 19. Berbagai tawaran manggung terpaksa ditolak dan dibatalkan karena sering pada saat manggung, Ari tampil dengan kondisi yang memprihatinkan. Album ke-5 Dewa 19 tidak pernah selesai digarap akibat jadwal rekaman yang sering ditunda. Perlahan mulai timbul konflik di tubuh Dewa 19.
Ari dan Erwin sempat diberi waktu istirahat beberapa bulan dan Dewa 19 divakumkan untuk sementara waktu. Erwin kemudian memutuskan untuk masuk rehabilitasi dan pesantren untuk menghilangkan kebiasaan buruknya itu. Setelah melewati waktu yang cukup lama Erwin berhasil sembuh. Sementara Ari Lasso sama sekali tak ada tanda-tanda membaik, bahkan semakin memburuk. Melihat kondisi Ari Lasso semakin mengkhawatirkan, dengan terpaksa ia dikeluarkan dari posisi vokalis Dewa 19.
Album The Best Of Dewa 19 (1999)
Daftar lagu
1. Elang
2. Kirana
3. Aku Milikmu
4. Cukup Siti Nurbaya
5. Cinta 'Kan Membawamu Kembali
6. Kangen
7. Aku Disini Untukmu
8. Kamulah Satu-Satunya
9. Satu Hati (Kita Semestinya)
10. Persembahan Dari Surga
The Best of Dewa 19 adalah album kumpulan karya-karya terbaik Dewa 19 yang dirilis pada tahun 1999. Album ini memuat lagu-lagu terbaik Dewa 19 semasa Ari Lasso menjadi vokalis, sejak album pertama Dewa 19 (1992) hingga Pandawa Lima (1997). Album ini memuat 2 buah lagu baru yaitu "Elang" dan "Persembahan Dari Surga". Album ini merupakan album perpisahan Dewa 19 dengan Ari Lasso sebelum akhirnya digantikan oleh Once. Album ini kembali meraih sukses meski tanpa sepotong promosi apapun. Setelah perilisan album ini, Dewa 19 resmi hanya tinggal 2 orang personel saja yaitu Ahmad Dhani dan Andra.
FORMASI BARU DEWA 19 BERSAMA ONCE & TYO
Once Mekel yang berkenalan dengan Dhani pada tahun 1997, direkrut menjadi vokalis baru Dewa 19 menggantikan Ari Lasso. Sebelumnya, Once bersama Dhani dan Andra sempat menggarap rekaman untuk film Kuldesak. Once kemudian juga mengajak temannya, Tyo Nugros bergabung dengan Dewa 19 untuk mengisi posisi drummer yang kosong.
Album Bintang Lima (2000)
Daftar lagu
1. Mukadimah
2. Roman Picisan
3. Dua Sejoli
4. Risalah Hati
5. Separuh Nafas
6. Cemburu
7. Hidup Adalah Perjuangan
8. Lagu Cinta
9. Cinta Adalah Misteri
10. Sayap-Sayap Patah
11. 1000 Bintang
Setelah sekian lama vakum dari blantika musik Indonesia, akhirnya pada tanggal 30 April 2000, Dewa tampil secara perdana dengan formasi baru: Ahmad Dhani (keyboard), Andra Junaidi (gitar), Once Mekel (vokalis) dan Tyo Nugros (drumer). Kali ini Dewa 19 hadir dengan nama "Dewa" saja, tanpa embel-embel "19".
Pada tahun 2000, Dewa merilis album kelimanya bertajuk Bintang Lima. Awalnya banyak yang pesimis dengan formasi Dewa saat itu. Namun ternyata, album Bintang Lima justru meledak di pasaran, bahkan menjadi album tersukses sepanjang karier Dewa. Dari 11 materi lagu di album tersebut, 6 di antaranya manjadi lagu favorit anak-anak muda di seantero tanah air. "Roman Picisan", "Dua Sejoli", "Risalah hati", "Separuh Nafas", "Cemburu" dan "Lagu Cinta" adalah lagu-lagu yang banyak direquest di radio-radio terkemuka di Indonesia. Dewa mengadakan tur di 36 kota untuk mempromosikan album ini sekaligus memperkenalkan formasi baru mereka. Melalui album ini, Dewa menyabet tiga penghargaan AMI Awards 2000, yaitu "Penyanyi/Group Terbaik", "Lagu Terbaik" ("Roman Picisan") dan "Album Terbaik". Bintang Lima sukses terjual lebih dari 1,7 juta keping dan merupakan salah satu album terlaris di Indonesia. Total penjualan album ini (asli dan bajakan) diperkirakan mencapai 9 juta keping. Majalah Rolling Stone menempatkan album ini di posisi 96 dalam daftar "150 Album Indonesia Terbaik".
Album Cintailah Cinta (2002)
Daftar lagu
1. Arjuna
2. Kosong
3. Mistikus Cinta
4. Angin
5. Pupus
6. Cintailah Cinta
7. Kasidah Cinta
8. Bukan Rahasia
9. Air Mata
Erwin Prasetya yang telah sembuh total dari narkoba kembali bergabung dengan Dewa. Album keenam Cintailah Cinta dirilis pada tanggal 5 April 2002. Album ini awalnya akan diberi judul Indera Ke-Enam, namun hanya karena pertimbangan pasar, pihak label menggantinya menjadi Cintailah Cinta. Album ini pun kembali mendulang sukses album Bintang Lima. Sebelum resmi dirilis di pasaran album ini bahkan telah laris sebanyak 200.000 keping. Total penjualan album ini telah mencapai lebih 1,04 juta keping. Pada ajang AMI Awards 2002, Dewa berhasil membawa tiga penghargaan untuk kategori "Duo/Grup Pop Terbaik", "Lagu Terbaik" ("Arjuna") serta "Sampul Album Terbaik.
Di tengah kesuksesan yang diraihnya, Dewa tersandung masalah pelanggaran hak cipta. Lagu berjudul "Arjuna Mencari Cinta" digugat oleh Yudhistira ANM Massardi, selaku penulis novel dengan judul yang sama. Dewa dianggap menciplak judul novel "Arjuna Mencari Cinta" tanpa konfirmasi dengan si penulis. Meskipun awalnya sempat bersikukuh tidak bersalah, Dewa akhirnya bersedia berdamai dengan mengganti judul lagunya menjadi "Arjuna".
Pada tahun yang sama, Dewa merekam lagu berjudul "Juara Sejati" untuk menjadi theme song resmi Piala Dunia 2002 di Indonesia. Meskipun awalnya bukan untuk tujuan komersil, lagu ini kemudian dirilis dalam kompilasi bertajuk NU Rock.
Pada tanggal 1 Juli 2002, Erwin Prasetya kembali dikeluarkan dari Dewa oleh pihak manajemen untuk selama-lamanya. Posisinya kemudian digantikan oleh Yuke Sampurna, yang merupakan mantan basist The Groove.
Album Atas Nama Cinta (2004)

Daftar lagu
Atas Nama Cinta I
1. Separuh Nafas
2. Restoe Boemi
3. Aku Milikmu
4. Cukup Siti Nurbaya
5. Bukan Rahasia
6. Mistikus Cinta
7. Lagu Cinta
8. Elang
9. Kasidah Cinta
10. Pupus
11. Cemburu
Atas Nama Cinta II
1. Kosong
2. Bunga
3. Dua Sejoli
4. Hidup Adalah Perjuangan
5. Juara Sejati
6. Angin
7. Manusia Biasa
8. Arjuna
9. Roman Picisan
10. Kamulah Satu-Satunya
11. Cintakan Membawamu Kembali
Dewa menggelar tur bertajuk "Atas Nama Cinta" di 25 kota di Indonesia, yang dibuka dengan konser di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, 18 Februari 2003. Dalam tur ini, Dewa juga mengikutsertakan Ari Lasso, mantan vokalis Dewa. Pada awal tahun 2004, Dewa merilis album live dobel Atas Nama Cinta yang merupakan rekaman konser saat tur Atas Nama Cinta, menampilkan lagu-lagu hits Dewa sejak tahun 1992 dalam versi konser. Dewa juga merilis ulang The Best Of Dewa 19 dalam bentuk DVD berisi Kelahiran & Perjalanan Dewa 19 serta 10 video klip, ditambah 1 CD audio dan 1 buku sejarah dan perjalanan Dewa 19. Sejak dirilis pada tahun 1999, album The Best of Dewa 19 sendiri telah terjual hampir 1 juta keping.
Album Laskar Cinta (2004)
Daftar lagu
1. Pangeran Cinta
2. Atas Nama Cinta
3. Satu
4. Indonesia Saja
5. Sweetest Place
6. Hidup Ini Indah
7. Cinta Gila
8. Nonsens
9. Hadapi Dengan Senyuman
10. Matahari Bintang Bulan
11. Aku Tetaplah Aku
12. Shine On
Pada tahun 2004, Dewa kembali melakukan tur di 30 kota yang disponsori Yamaha bertajuk "Yamaha Dewa Tour 2004 - Selalu Terdepan". Selepas melakukan tur, bertempat di Avenue, Sari Pan Pacific Hotel, Dewa resmi merilis album kedelapannya yang berjudul Laskar Cinta pada tanggal 22 November 2004. Di album ini Dewa menyuguhkan musik rock yang lebih keras serta penggunaan musik sampling. Album ini melejitkan hits berjudul "Pangeran Cinta", "Satu" dan "Cinta Gila". Nama Dewa kemudian dikembalikan lagi menjadi "Dewa 19".
Masalah kembali menimpa Dewa 19, kali ini dengan Front Pembela Islam (FPI) menyangkut sampul album Laskar Cinta yang memuat logo seperti kaligrafi Allah. Perseteruan ini sempat berbuntut pada pelaporan Dewa 19 ke polisi oleh FPI. Setelah saling melempar komentar-komentar panas di media, akhirnya pada tanggal 27 April 2005, Dewa 19 dan pengacaranya Habib Umar Husein SH menggelar jumpa pers, untuk mengumumkan itikad mau mengubah logo dalam sampul album "Laskar Cinta". Perubahan logo ini dilakukan oleh Tepan Cobain dari tim kreatif Dewa 19 dengan berkonsultasi pada ahli kaligrafi Al Qur'an, Didin Sirajuddin AR. Menyangkut perubahan logo, Dewa 19 juga mencetak ulang cover album Laskar Cinta. Dalam cetak ulang cover album itu, selain ada perubahan logo, juga ada perubahan di gambar personel Dewa 19 yang sebelumnya terlihat memakai tato dihilangkan, sesuai saran dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
UPAYA GO INTERNATIONAL & ALBUM REPUBLIK CINTA
Sepanjang tahun 2003 hingga 2005, Dewa telah beberapa kali di undang untuk mengadakan konser di kancah internasional. Pada tanggal 13-15 Agustus 2003, Dewa mengadakan 2 buah konser di Jepang, masing-masing di Tokyo dan Nagoya. Pada tahun 2004, Dewa mengadakan konser di Korea Selatan, lalu kemudian ke Amerika Serikat untuk menggelar konser di Boston, Houston, San Fransisco dan Seattle. Pada tanggal 7 Mei 2004 Dewa juga mendapat undangan untuk mengadakan konser di Timor Leste dalam rangka Hari Kemerdekaan negara tersebut. Pada tanggal 15 Mei 2004, konser Dewa 19 digelar di Municipal Stadium, Dili dan disambut oleh 50.000 penonton. Angka tersebut merupakan jumlah penonton terbesar Dewa selama manggung di luar negeri. Keesokan harinya, saat hendak kemballi ke Indonesia, personel Dewa didatangi oleh presiden Xanana Gusmao di koridor Aeroporto Internacional Presidente Nicolau Lobato. Pada Maret 2005, Dewa menggelar konser di kota Sydney dan Melbourne, Australia. Dewa 19 juga mengadakan konser di Singapura seusai menerima penghargaan khas dari Anugerah Planet Muzik 2005 sebagai "The Most Genius Band".
Album Republik Cinta (2006)
Daftar lagu
1. Laskar Cinta Chapter One
2. Laskar Cinta Chapter Two
3. Emotional Love Song
4. Larut
5. Sedang Ingin Bercinta
6. Tentang Perasaanku Kepadamu
7.Lelaki Pencemburu
8. Lover's Rhapsody
9. I Want to Break Free
10. Flower in the Desert
11. Live On
12. Selimut Hati
Dewa mulai serius menjajaki pasar internasional dengan ditanda tanganinya kontrak untuk 3 album dengan EMI Music International Hong Kong yang berlaku per 1 Januari 2006. Dewa 19 kemudian mengeluarkan album bertajuk Republik Cinta pada awal tahun 2006 dalam 2 versi, yakni untuk pasar Indonesia dan pasar internasional. Sebelum merilis album ini, pada tanggal 12 Desember 2005, Dewa dan EMI telah melempar singel berjudul "Laskar Cinta" di 150 radio di Indonesia. "Laskar Cinta" sendiri mengangkat isu terorisme dan kekerasan. terinspirasi oleh perseteruan Dewa dengan FPI beberapa waktu sebelumnya. Tulisan KH Abdurrahman Wahid di The New York Times, koran terkemuka di Amerika Serikat, telah mengantarkan nama Dewa 19 ke negara tersebut. Dewa mendapatkan penghargaan LibForAll Award di Amerika Serikat atas lagu "Warriors of Love" (versi bahasa Inggris "Laskar Cinta") yang dinilai menyerukan perdamaian dan toleransi beragama. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh CEO LibForAll Foundation, Holland Taylor, di New York, Amerika Serikat.
Dewa 19 menghabiskan biaya lebih dari setengah miliar untuk menggarap 11 video klip di album ini. Dewa 19 kemudian merilis VCD dan DVD Karaoke dari album Republik Cinta. Dewa juga membuat video klip "I Want to Break Free" untuk keperluan internasional. Video dari lagu milik band legendaris Queen ini juga diputar oleh jaringan Hard Rock Cafe di seluruh dunia, guna memperlebar kesempatan Dewa dikenal secara internasional.
Meskipun upaya menuju karier internasional mereka gagal, album Republik Cinta berhasil membuahkan penghargaan di AMI Awards 2006. Dewa 19 berhasil meraih penghargaan "Grup Rock Terbaik" dan "Album Terbaik". Tidak hanya itu, vokalis Dewa, Once juga meraih penghargaan sebagai "Penyanyi Solo Pria Terbaik" melalui proyek solonya. Album Republik Cinta sendiri terjual sebanyak 450 ribu keping selama 3,5 minggu. Pada bulan Maret 2006, album ini juga meraih sertifikat platinum di Malaysia. Pada yang sama Dewa juga dinobatkan sebagai "Duta Surabaya" atas kesuksesan dan prestasi mereka sebagai grup musik yang berasal dari Surabaya.
Album Kerajaan Cinta (2007)
Daftar lagu
1. Dewi
2. Mati Aku Mati
3. Roman Picisan (New Version)
4. Separuh Nafas (New Version)
5. Kangen (New Version)
6. Angin (New Version)
7. Sedang Ingin Bercinta
8. Laskar Cinta Chapter One
9. Laskar Cinta Chapter Two
10. Emotional Love Song
11. Larut
12. Tentang Perasaanku Kepadamu
13. Lelaki Pencemburu
14. Selimut Hati
Pada tahun 2007, Dewa merilis album kompilasi berjudul Kerajaan Cinta, yang kemudian menjadi album terakhir dalam karier grup ini. Album ini memuat dua buah lagu baru yaitu "Dewi" dan "Mati Aku Mati", sementara selebihnya merupakan lagu-lagu di album Republik Cinta dan lagu-lagu lama Dewa yang diremix atau direkam ulang. Lagu "Mati Aku Mati" diangkat untuk menjadi soundtrack film arahan Hanung Bramantyo, Kamulah Satu-Satunya, yang dibintangi oleh Nirina Zubir. Filmnya sendiri bercerita tentang pengorbanan dan kenekatan seorang penggemar fanatik Dewa 19. Pada tahun ini, Dewa 19 kembali harus kehilangan salah seorang personelnya, Tyo Nugros. Tyo keluar setelah sebelumnya ia sempat vakum dari kegiatan Dewa akibat menderita sakit pada kakinya yang mengharuskannya tidak bisa main drum untuk jangka waktu lama. Posisi drummer kemudian diberikan kepada Agung Yudha.
Dewa 19 menggelar konser besar-besaran di lima kota di Malaysia, yaitu: Kota Kinabalu, Kuching, Johor Bahru, Penang dan Kuala Lumpur selama bulan Desember 2007. Dewa kemudian melakukan konser di Stadion Negara, Kuala Lumpur. Dewa 19 mencetak sejarah musik di Malaysia dimana sebuah grup musik melakukan konser di lima kota besar di Malaysia dalam sebulan. Pada konser ini Dewa 19 menggandeng sejumlah penyanyi papan atas Malaysia di antaranya Ella dan Sheila Majid. Dewa juga membuatkan lagu khusus penggemarnya di Malaysia berjudul "Cintaku Tertinggal di Malaysia". Selain itu, Dewa 19 terpilih menjadi ikon dari Celcom Bhd, salah satu perusahaan telekomunikasi raksasa Malaysia.
PENYEBAB VAKUMNYA DEWA 19
Setelah menggelar tur di Malaysia, Dewa 19 mulai vakum akibat kesibukan masing-masing personel dengan proyek sampingannya mereka masing-masing. Andra Junaidi membentuk grup band Andra & The Backbone pada tahun 2006, bersama Stevie Item dan Dedy Lisan. Album pertama grup ini dirilis pada tahun 2007, dengan melejitkan sejumlah hit seperti "Musnah" dan "Sempurna". Pada tahun 2007, Ahmad Dhani mulai mengembangkan manajemen Dewa 19 menjadi Republik Cinta Management yang berhasil meluncurkan karier sejumlah penyanyi terkenal seperti Dewi Dewi, Mulan Jameela, dan The Virgin. Dhani kemudian juga membentuk grup musik The Rock dan menjadi vokalisnya. Vokalis Dewa 19, Once Mekel, juga mengembangkan kariernya sebagai penyanyi solo dengan merekam singel "Ku Cinta Kau Apa Adanya" pada tahun 2007. Pada tahun 2009, Yuke Sampurna menyusul rekan-rekannya dengan membentuk grup band Number One dan The Chemistry.
Akibat kesibukan mereka masing-masing pengerjaan album kesepuluh Dewa tidak kunjung selesai. Dewa 19 sempat kembali ke panggung musik dengan hanya merilis singel, yaitu "Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia" (2008) dan "Bukan Cinta Manusia Biasa" (2009). Kedua lagu tersebut dimuat dalam album kompilasi artis-artis Republik Cinta Management. Menurut pengamat musik Bens Leo, kesibukan Ahmad Dhani yang merupakan otak Dewa 19 menyebabkan grup ini berada dalam keadaan kurang sehat. Ia mengatakan: "Dhani bisa membentuk RCM hingga artis-artisnya dikenal, tapi Dewa 19 justru tidak terurus... Kalau Dhani tidak mempertahankan band utamanya, jelas banyak fans yang akan kecewa. Begitu pula dengan penikmat musik di tanah air yang sudah akrab dengan musik-musik khas Dewa 19."
Pada awal tahun 2011, Once akhirnya menyatakan keluar dari posisinya sebagai vokalis Dewa 19 untuk fokus dalam kariernya sebagai penyanyi solo. Pengunduran diri Once tersebut menjadi penyebab utama Vakumnya Dewa 19. Ahmad Dhani kemudian kembali mengadakan pembicaraan dengan Once, yang mana akhirnya mereka memutuskan untuk memati surikan band tersebut sampai menemukan pengganti Once yang pas dengan karakter Dewa. Dhani menyatakan: "Saya memutuskan band Dewa itu adalah band nostalgia. Jadi kalau main itu dalam konteks reuni. Kalau pun membuat album lagi adalah dalam bentuk Dewa 19 band nostalgia." Dewa 19 resmi dinyatakan mati suri setelah berdiri selama 25 tahun.
Sumber : http://rohmanjurnalis.blogspot.co.id/2014/05/sejarah-lengkar-band-dewa-19.html
Jumat, 22 April 2016
Profil Band Mychemical Romance
My Chemical Romance atau MCR adalah grup musik asal New Jersey, yang dibentuk pada bulan September tahun 2001 oleh Gerard Way dan Matt Pelissier. Saat ini, band ini diawaki oleh Gerard Way (vokal), Mikey Way (bass), Ray Toro (lead guitar), Frank Iero (gitar), dan Bob Bryar (drum). Nama band ini terinspirasi oleh buku karangan Irvine Welsh yaitu Ecstasy: Three Tales of Chemical Romance.
My Chemical Romance adalah grup band yang menurut media bergenre pop punk, post-hardcore, “punk revival”, rock alternatif, dan emo. Namun grup ini mendeskripsikan musik mereka sebagai musik “rock” atau “pop yang kasar”, dan menolak diklasifikasikan sebagai emo. Grup ini telah merilis tiga album yaitu I Brought You My Bullets, You Brought Me Your Love pada tahun 2002, Three Cheers For Sweet Revenge pada tahun 2004, dan The Black Parade pada tahun 2006.
Band ini mendapat inspirasi dari Queen, Black Flag, Iron Maiden, The Misfits, Morissey, At the Gates, Pink Floyd, The Smashing Pumpkins, Descendents, Pantera, The Cure, dan The Smiths.
Awal
Mereka sepakat membentuk MCR dengan sebuah alasan yang sama yaitu untuk sebuah balas dendam!! Kok bisa??? Sang vokalis Gerard Way, adalah seorang maniak komik, hanya tertarik dengan komik dan musik. Gerard seorang yang senang membuat berbagai hal kreatif untuk dirinya sendiri. Dia adalah tipe penyendiri dan menjadikannya agak “terisolasi” dan dianggap “tidak ada” di sekolah.
Sama halnya seperti Gerard, Ray Toro sang gitaris, juga seperti dianggap “tidak ada” disekolahnya. Setiap pulang sekolah, dia langsung pulang ke rumah hanya untuk bermain gitar dan video game seharian. Yang agak berbeda mungkin Frank Iero, meski hanya memiliki tiga orang teman di sekolahnya, akan tetapi setiap hari dia hanya ngeganja dan mabuk-mabukan. Frank seperti bingung harus berbuat apa. Kelima anak-anak “tersisih” tersebut berjuang untuk tetap bertahan di sekolah dengan kesadaran.
Musik memang ajaib, mereka yang berasal dari sekolah berbeda itu, disatukan dalam sebuah band. Inilah awal dari MCR. Gerard adalah salah satu saksi hidup ketika teroris meruntuhkan World Trade Center, 11 September 2001 lalu. Rasa marah, kesal, gelisah, sedih dan resahnya kemudian dituangkan dalam lagu berjudul “Skylines and Turntiles” yang ditulisnya bersama Matt ‘Otter’ Pelisier. Mereka kemudian mengajak Ray Toro dan Mikey Way (adik Gerard) untuk bergabung. Nama band sendiri diusulkan oleh Mikey ketika membaca buku berjudul Ectassy: Three Tales of Chemical Romance, tulisan Irvine Welsh.
Ketenaran datangnya memang kadang sering tak terduga. Ini juga yang dialami 5 orang cowok yang bisa dibilang comic-book-obsessed dari New Jersey. Karena gara-gara album perdana mereka jadi hits tiba-tiba ketenaran mereka meroket. Sekitar tahun 2003, mereka dikontrak oleh Reprise Warner Bross dan merilis album “Three Cheers For Sweet Revenge” yang diproduseri oleh Howard Benson, pada tanggal 4 juni 2004. Album yang boleh dibilang menjadi tonggak awal kesuksesan MCR. Mereka bertambah sukses lagi ketika lagu – lagu mereka di album ini menjadi berhasil menjadi hits di radio komersial dan MTV, seperti “Helena” (yang diciptakan Gerard untuk nenek tercintanya, Elena, setelah beliau meninggal), “I’m Not Okay”, “The Ghost Of You”, dan “Thank You For The Venom”. Album ini juga berhasil meraih charts di Billboard.
Seiring pertumbuhan popularitas mereka, Matt Pelisier (drummer) keluar dari MCR pada Agustus 2004 ketika mereka lagi tur di Jepang. Alasannya belum jelas, tapi ada yang mengatakan kalo alasannya karena perdebatan dengan Ray atau karena ada kesalahan yang diperbuat Matt ketika konser dan dengan segera digantikan oleh Bob Bryar.
Cobaan dan Cibiran
Selain sempat “goyang” dikarenakan keluarnya Matt Pelisier, MCR juga sempat dikatakan “hampir rontok” ketika Iero meninggalkan tur pada tanggal 11 November 2007 di Newcastle, setelah mendengar kabar mengenai anggota keluarganya yang sakit dan digantikan sementara oleh teknisi gitar MCR, Matt Cortez. Matt juga sempat menggantikan Mikey Way saat ia “cuti” enam bulan setelah menikah. Sakit dan meninggalkan tur juga masih dialami oleh drummer Bob Bryar yang mengalami cedera pergelangan tangan.
Meskipun MCR mengganggap aliran musik mereka adalah “pop punk”, “post-hardcore”, “punk revival” dan “alternatif pop rock” serta menolak dikatakan sebagai band emo, banyak kritikus musik yang menggolongkan mereka secara perlahan-lahan masuk dalam aliran emo. Ejekan sebagai “anak-anak emo” ini pernah secara kasar dilontarkan oleh band Inggris Kasabian yang menyebut MCR dengan “clowns” atau “emo kids”. Entah mengapa, Kasabian menyebut MCR sebagai satu band yang tidak punya sesuatu yang positif untuk dikatakan.
Selain itu, Marilyn Manson juga mengejek MCR sebagai “Peniru yang Menyedihkan”. Manson mengklaim bahwa MCR telah merampok gayanya. Dalam interviewnya dengan The London Paper, Manson mengatakan kalau lagu “Mutilation Is The Most Sincere Form Of Flattery” dari album barunya Eat Me, Drink Me menceritakan tentang pakaian Gerard Way sang vokalis MCR.
Bring Black Parade To Life!
Tanggal 23 Oktober 2006, MCR merilis album ketiga mereka, ‘The Black Parade’ yang diproduseri oleh Rob Cavallo. Album ini aslinya berjudul ‘The Rise and Fall of My Chemical Romance’, tapi di interview yang diadakan oleh majalah Kerrang! Gerard mengatakan kalo judul album itu bukan judul yang sebenernya, hanya tipuan dan lelucon aja, “It was never the title of the album, more a spoof, or joke”.
Dalam album ini, MCR seolah ingin meninggalkan kesan emo dalam diri mereka dan menjadi lebih gelap. Hal itu terbukti dengan pernyataan Gerard bahwa single “Cancer” adalah single yang paling gelap sepanjang masa. Gerard menyatakan bahwa “Cancer” banyak bercerita mengenai penyakit kanker dan bercerita mengenai sesuatu yang dialami oleh si pasien kanker. ” Bagi saya, pengalaman menulis lagu ini seperti menuliskan lagu tergelap sepanjang masa dan saya rasa kami berhasil,” ujar Gerard. Album ini berhasil meraih kesuksesan dengan terjual 1,4 juta copy diseluruh dunia.
MCR juga memilih menjadi band dengan basis massa “underground” atau “grassroots”. Mereka punya fans yang siap “mencaci-maki” habis-habisan dalam forum yang mereka bikin, termasuk di situs resmi mereka. Sisi positifnya adalah, MCR menolak segala atribut yang biasanya dilekatkan pada band, seperti ‘sex icon’ dan sebagainya. Fans membuat mereka menjadi “diri mereka sendiri”.
Akhir
Akhir dari band yang satu ini sangatlah mengejutkan, sebelum mengumumkan dengan resmi bubar MCR sempat mengeluarkan Extended Album dengan Judul "Converstion Is Weapon" yang membuatnya menjadi buming kembali, tapi menurut James Dewees (additional keyboard for MCR) mereka bubar karena masing masing sudah sibuk dan jalan sendiri sendiri dia dan Frank Iero sekarang lagi punya band baru Electronic Hardcore bernama Death Spell dan masih main sama Frank di Leathermouth juga dan tahun ini mereka ada tour sedangkan Gerard sibuk dengan project comicnya dan akhirnya mereka sepakat untuk bubar. Mereka gak bilang ini hiatus tapi kalau kau ingin berkata ini "break up".
Penyataan Resmi Gerard Way
" A Vigil, On Birds and Glass.
I woke up this morning still dreaming, or not fully aware of myself just yet. The sun poked through the windows, touching my face, and then a deep sadness overcame me, immediately, bringing me to life and realization- My Chemical Romance had ended.
I walked downstairs to do the only thing I could think of to regain composure-
I made coffee.
As the drip began, in that kind of silence that only happens in the morning, and being the only one awake, I stepped outside my home, leaving the door open behind me. I looked around and began to breathe. Things looked to be about the same- a beautiful day.
As I turned to step back into the house I heard sound from within, a chirp and a rustle. And I noticed a small brown bird had flown into the library. Naturally, I panicked. I knew I had to see the bird to safety and I knew I had to retain the order of things in our home, and he very well couldn’t take up residency with us. I chased "
"Sebuah Vigil, Pada Burung dan Kaca.
Aku bangun pagi ini masih bermimpi, atau tidak sepenuhnya menyadari diri saya dulu. Matahari menusuk melalui jendela, menyentuh wajahku, dan kemudian kesedihan yang mendalam mengalahkan saya, segera, membawa saya untuk hidup dan realisasi-My Chemical Romance telah berakhir.
Aku menuruni tangga untuk melakukan satu-satunya hal yang dapat saya pikirkan untuk menenangkan-
Aku membuat kopi.
Sebagai tetesan dimulai, pada hal semacam keheningan yang hanya terjadi di pagi hari, dan menjadi satu-satunya terjaga, aku melangkah ke luar rumah saya, meninggalkan pintu terbuka di belakang saya. Aku memandang sekeliling dan mulai bernapas. Hal tampak sekitar hari yang sama-indah.
Saat aku berbalik untuk melangkah kembali ke dalam rumah aku mendengar suara dari dalam, kicauan dan berdesir a. Dan aku melihat seekor burung kecil berwarna cokelat terbang ke perpustakaan. Tentu, saya panik. Aku tahu aku harus melihat burung untuk keselamatan dan aku tahu aku harus mempertahankan urutan hal-hal di rumah kami, dan dia sangat baik tidak bisa mengambil residensi dengan kami. aku dikejar"
"It's not a band, it's an idea" I know it. Love you, My Chemical Romance, @gerardway @raytoro @frnkiero @mikeyway. MCR is always alive insid"
Begitulah Penggalan dari penyataan bubarnya MCR. 2001-2013 (The Light Behind Your Eyes).
Hits
Na Na Na Na Na Na
Welcome To The Black Parade
Helena
Sumber : http://dengan-ku.blogspot.co.id/2013/03/Sejarah-MCR.html
Minggu, 10 April 2016
Profil band Paramore
Band Paramore dibentuk pada tahun 2004 di Franklin, Tennessee, Amerika Serikat oleh vokalis Hayley Williams, gitaris Josh Farro dan Taylor York, drummer Zac Farro, serta bassist Jason Clarke. Namun pada saat mereka akan masuk ke dunia major label, pihak label kurang setuju dengan keberadaan Taylor York dan Jason Clarke. Kemudian Hayley membawa bassist Jeremy Davis dan gitaris Jason Bynum untuk menggantikan mereka, dan pihak label pun setuju. Paramore lalu menandatangani kontrak dengan Fueled by Ramen pada April 2005. Nama Paramore sendiri dikabarkan diambil dari nama ibu dari bassist pertama mereka
Paramore merupakan sebuah grup musik asal Amerika Serikat yang dibentuk pada tahun 2004. Grup musik ini bermarkas di Franklin, Tennessee. Saat ini mereka beranggotakan 3 orang yaitu vokalis Hayley Williams, Bassist Jeremy Davis, dan gitaris Taylor York. Sejak terbentuk, mereka telah mengeluarkan 3 studio-album (All We Know Is Falling, Riot!, dan Brand New Eyes) dan 1 EP (The Summer Tic EP) serta sebuah live-album (The Final Riot!)
Album pertama mereka berjudul All We Know Is Falling dan dirilis pada Juli 2005. Dari album ini mereka merilis 3 single, yaitu: Pressure, Emergency, dan All We Know. Meskipun begitu, album ini dibuat tanpa kehadiran bassist Jeremy Davis. Hal tersebut dikarenakan tepat sebelum proses rekaman, Jeremy memutuskan untuk keluar dari band. Oleh karena itu, album ini dirilis dengan hanya 4 personil yang dikreditkan. Sebenarnya kepergian Jeremy memberikan dampak yang besar pada Paramore saat itu, dan hal tersebut menginspirasi Hayley untuk menulis lagu All We Know, dimana di dalam lagu tersebut berisi baris "All We Know Is Falling". Di album ini juga terdapat lagu Conspiracy, yang merupakan lagu pertama yang ditulis bersama oleh semua personil. Pada lagu "My Heart" terdapat satu-satunya scream dari Josh Farro sebagai backing vocal.
Dengan beranggotakan 4 orang, Paramore merilis album kedua mereka yaitu Riot! pada Juni 2007. Dari album ini mereka merilis 4 single: Misery Business, Hallelujah, Crushcrushcrush, dan That's What You Get. Single pertama mereka, Missery Business, menerima kritik positif dan menjadi hits secara instant, membuat nama Paramore
semakin melejit. Selama tour Riot!, mereka merekrut teman lama mereka, Taylor York, sebagai gitaris tambahan untuk tour. Pada Februari 2008, Paramore membatalkan 6 konser mereka di Eropa untuk menyelesaikan permasalahan internal yang menyelimuti band. Dibawah semua tekanan itu mereka merilis single That's What You Get pada Maret 2008semakin melejit. Selama tour Riot!, mereka merekrut teman lama mereka, Taylor York, sebagai gitaris tambahan untuk tour. Pada Februari 2008, Paramore membatalkan 6 konser mereka di Eropa untuk menyelesaikan permasalahan internal yang menyelimuti band. Dibawah semua tekanan itu mereka merilis single That's What You Get pada Maret 2008
Pada tahun 2009, Paramore merilis album ketiga mereka yang berjudul "Brand New Eyes" pada tanggal 29 September yang bertepatan pada ulang tahun gitaris mereka, Josh Farro. Pada album ini, Taylor York telah menjadi anggota tetap Paramore, sehingga kali ini mereka merilis album dengan personil 5 orang. Paramore menyatakan bahwa album ini telah mempererat hubungan mereka sebagai band, setelah sebelumnya sempat terjadi keretakan. Untuk itulah mereka memberi nama album ini "Brand New Eyes" yang menggambarkan sudut pandang baru dari setiap personil. Dari album ini mereka merilis 5 single: Ignorance, Brick By Boring Brick, The Only Exception, Careful, dan Playing God
Pada 18 Desember 2010, melalui situs resmi Paramore, mereka menyatakan bahwa kakak-beradik Josh dan Zac Farro resmi keluar dari Paramore. Hayley mengatakan bahwa belakangan ini mereka sudah merasa tidak bahagia di Paramore. Namun dengan jumlah personil 3 orang, Hayley Williams, Jeremy Davis, dan Taylor York menyatakan untuk tetap melanjutkan apa yang telah mereka jalani selama ini. Pada 22 Desember, Josh, melalui sebuah blog kontroversial, menceritakan versinya sendiri tentang alasan dia dan adiknya keluar dari Paramore. Hayley menyatakan bahwa kepergian Farro bersaudara pasti akan mempengaruhi musik Paramore, tapi mereka akan tetap pada genre asli mereka yaitu Alternative Rock. Dalam tour 2011, mereka merekrut personil tour Justin York (gitar) dan Josh Freese (drum), serta tetap masih dibantu oleh Jon Howard (keyboard).
ALBUM
All We Know Is Falling (2005)
Riot! (2007)
Brand New Eyes (2009)
Anggota Tetap
Hayley Williams — Vokal (2004-sekarang)
Jeremy Davis — Bass (2005-sekarang)
Taylor York — Gitar (2008-sekarang)
Hits Paramore:
Still Into You
Ignorance
Thats what you get
Sumber : http://www.biografiku.com/2011/09/biografi-paramore.html
Paramore merupakan sebuah grup musik asal Amerika Serikat yang dibentuk pada tahun 2004. Grup musik ini bermarkas di Franklin, Tennessee. Saat ini mereka beranggotakan 3 orang yaitu vokalis Hayley Williams, Bassist Jeremy Davis, dan gitaris Taylor York. Sejak terbentuk, mereka telah mengeluarkan 3 studio-album (All We Know Is Falling, Riot!, dan Brand New Eyes) dan 1 EP (The Summer Tic EP) serta sebuah live-album (The Final Riot!)
Album pertama mereka berjudul All We Know Is Falling dan dirilis pada Juli 2005. Dari album ini mereka merilis 3 single, yaitu: Pressure, Emergency, dan All We Know. Meskipun begitu, album ini dibuat tanpa kehadiran bassist Jeremy Davis. Hal tersebut dikarenakan tepat sebelum proses rekaman, Jeremy memutuskan untuk keluar dari band. Oleh karena itu, album ini dirilis dengan hanya 4 personil yang dikreditkan. Sebenarnya kepergian Jeremy memberikan dampak yang besar pada Paramore saat itu, dan hal tersebut menginspirasi Hayley untuk menulis lagu All We Know, dimana di dalam lagu tersebut berisi baris "All We Know Is Falling". Di album ini juga terdapat lagu Conspiracy, yang merupakan lagu pertama yang ditulis bersama oleh semua personil. Pada lagu "My Heart" terdapat satu-satunya scream dari Josh Farro sebagai backing vocal.
Dengan beranggotakan 4 orang, Paramore merilis album kedua mereka yaitu Riot! pada Juni 2007. Dari album ini mereka merilis 4 single: Misery Business, Hallelujah, Crushcrushcrush, dan That's What You Get. Single pertama mereka, Missery Business, menerima kritik positif dan menjadi hits secara instant, membuat nama Paramore
semakin melejit. Selama tour Riot!, mereka merekrut teman lama mereka, Taylor York, sebagai gitaris tambahan untuk tour. Pada Februari 2008, Paramore membatalkan 6 konser mereka di Eropa untuk menyelesaikan permasalahan internal yang menyelimuti band. Dibawah semua tekanan itu mereka merilis single That's What You Get pada Maret 2008semakin melejit. Selama tour Riot!, mereka merekrut teman lama mereka, Taylor York, sebagai gitaris tambahan untuk tour. Pada Februari 2008, Paramore membatalkan 6 konser mereka di Eropa untuk menyelesaikan permasalahan internal yang menyelimuti band. Dibawah semua tekanan itu mereka merilis single That's What You Get pada Maret 2008
Pada tahun 2009, Paramore merilis album ketiga mereka yang berjudul "Brand New Eyes" pada tanggal 29 September yang bertepatan pada ulang tahun gitaris mereka, Josh Farro. Pada album ini, Taylor York telah menjadi anggota tetap Paramore, sehingga kali ini mereka merilis album dengan personil 5 orang. Paramore menyatakan bahwa album ini telah mempererat hubungan mereka sebagai band, setelah sebelumnya sempat terjadi keretakan. Untuk itulah mereka memberi nama album ini "Brand New Eyes" yang menggambarkan sudut pandang baru dari setiap personil. Dari album ini mereka merilis 5 single: Ignorance, Brick By Boring Brick, The Only Exception, Careful, dan Playing God
Pada 18 Desember 2010, melalui situs resmi Paramore, mereka menyatakan bahwa kakak-beradik Josh dan Zac Farro resmi keluar dari Paramore. Hayley mengatakan bahwa belakangan ini mereka sudah merasa tidak bahagia di Paramore. Namun dengan jumlah personil 3 orang, Hayley Williams, Jeremy Davis, dan Taylor York menyatakan untuk tetap melanjutkan apa yang telah mereka jalani selama ini. Pada 22 Desember, Josh, melalui sebuah blog kontroversial, menceritakan versinya sendiri tentang alasan dia dan adiknya keluar dari Paramore. Hayley menyatakan bahwa kepergian Farro bersaudara pasti akan mempengaruhi musik Paramore, tapi mereka akan tetap pada genre asli mereka yaitu Alternative Rock. Dalam tour 2011, mereka merekrut personil tour Justin York (gitar) dan Josh Freese (drum), serta tetap masih dibantu oleh Jon Howard (keyboard).
ALBUM
All We Know Is Falling (2005)
Riot! (2007)
Brand New Eyes (2009)
Anggota Tetap
Hayley Williams — Vokal (2004-sekarang)
Jeremy Davis — Bass (2005-sekarang)
Taylor York — Gitar (2008-sekarang)
Hits Paramore:
Still Into You
Ignorance
Thats what you get
Sumber : http://www.biografiku.com/2011/09/biografi-paramore.html
Profil Band Imagine Dragons
Imagine Dragons adalah band rock Amerika asal kota judi, Las Vegas, Nevada yang beraliran Indie Rock dan siap mewarnai belantika musik dunia. Mereka memperoleh kepopuleran setelah merilis album studio debut mereka, "Night Visions", pada bulan September 2012 silam. Sejak saat itu, mereka telah melakukan tur dunia. Billboard kemudian memasukkan mereka ke dalam daftar "Bintang baru paling bersinar 2012", dan majalah Rolling Stone menyebut single mereka yang berjudul "Radioactive" sebagai "the Biggest Rock Hits Of the Year".
Imagine Dragons memiliki empat personil muda yaitu, Dan Platzman (drum dan backing vocal), Wayne Sermon (gitar), Ben Mckee (bass), dan Dan Reynolds (vokal). Band ini dibentuk pada tahun 2008 dengan menggunakan nama Imagine Dragons, yang merupakan anagram dari kata sebenarnya yang artinya hanya diketahui oleh keempat personil band itu.
Kemampuan Imagine Dragons memadukan warna music rock dengan sound yang identik dengan electronic digital uniquely merupakan diferensiasi yang mampu mereka lakukan dibandingkan band rock pada umumnya. Tidak heran, saat ini mereka banyak memproduksi musik yang dibantu oleh salah satu produser handal dan berpengalaman, Alex Da Kid yang sebelumnya sempat memproduksi musik untuk Rihanna bahkan Eminem.
Selain itu keempat personilnya juga tidak hanya memainkan instrumen musiknya masing - masing, tetapi juga terlibat sebagi vokalis sehingga hampir setiap lagu yang mereka buat terdengar sangat akrab untuk dinyanyikan secara bersama - sama. Salah satu prestasi yang membanggakan yang telah diraih oleh Imagine Dragons pada awal tahun ini, ketika empat pria Amerika ini menyabet trofi untuk kategori "Best Rock Performance" di Grammy Awards 2014 dengan lagu hits-nya “Radioactive”. Sebelumnya pun Imagine Dragons sudah lebih dulu meraih penghargaan "Favorite Alternative Artist" untuk hits “Radioactive” di Teen Choice Awards, serta American Music Award
Imagine Dragons saat ini sudah dikenal sebagai band Indie Rock terbaru yang menjanjikan dan juga mempunyai prospek untuk masa depannya, serta sudah mendapat penghargaan di ajang MTV VMA 2012 untuk kategori “Best Rock Video” yang didapat dari salah satu lagu mereka yang berjudul “It’s Time”.
Anggota – anggota Imagine Dragons :
Dan Reynolds - drums, vocals
Ben McKee - bass, backing vocals
Wayne Sermon - guitar, backing vocals
Dan Platzman - drums, viola, backing vocals
Sumber: http://technologic-art.blogspot.co.id/2014/07/biografi-imagine-dragons-bintang-baru.html
Imagine Dragons memiliki empat personil muda yaitu, Dan Platzman (drum dan backing vocal), Wayne Sermon (gitar), Ben Mckee (bass), dan Dan Reynolds (vokal). Band ini dibentuk pada tahun 2008 dengan menggunakan nama Imagine Dragons, yang merupakan anagram dari kata sebenarnya yang artinya hanya diketahui oleh keempat personil band itu.
Kemampuan Imagine Dragons memadukan warna music rock dengan sound yang identik dengan electronic digital uniquely merupakan diferensiasi yang mampu mereka lakukan dibandingkan band rock pada umumnya. Tidak heran, saat ini mereka banyak memproduksi musik yang dibantu oleh salah satu produser handal dan berpengalaman, Alex Da Kid yang sebelumnya sempat memproduksi musik untuk Rihanna bahkan Eminem.
Selain itu keempat personilnya juga tidak hanya memainkan instrumen musiknya masing - masing, tetapi juga terlibat sebagi vokalis sehingga hampir setiap lagu yang mereka buat terdengar sangat akrab untuk dinyanyikan secara bersama - sama. Salah satu prestasi yang membanggakan yang telah diraih oleh Imagine Dragons pada awal tahun ini, ketika empat pria Amerika ini menyabet trofi untuk kategori "Best Rock Performance" di Grammy Awards 2014 dengan lagu hits-nya “Radioactive”. Sebelumnya pun Imagine Dragons sudah lebih dulu meraih penghargaan "Favorite Alternative Artist" untuk hits “Radioactive” di Teen Choice Awards, serta American Music Award
Imagine Dragons saat ini sudah dikenal sebagai band Indie Rock terbaru yang menjanjikan dan juga mempunyai prospek untuk masa depannya, serta sudah mendapat penghargaan di ajang MTV VMA 2012 untuk kategori “Best Rock Video” yang didapat dari salah satu lagu mereka yang berjudul “It’s Time”.
Anggota – anggota Imagine Dragons :
Dan Reynolds - drums, vocals
Ben McKee - bass, backing vocals
Wayne Sermon - guitar, backing vocals
Dan Platzman - drums, viola, backing vocals
Sumber: http://technologic-art.blogspot.co.id/2014/07/biografi-imagine-dragons-bintang-baru.html
Langganan:
Postingan (Atom)


























